Gelar Silaturahmi Menjalin Persahabatan dan Ukhuwah dengan Kajian Rohani di Tanjungbalai

Tanjung Balai, Lensaexpose.com – Gelar kegiatan Silaturahmi menjalin Persahabatan dan Ukhuwah dalam rangka menjaga Persaudaraan dan persatuan dengan isi dengan ceramah kajian rohani oleh Ustad Husni, Ustadz Nurlen, Ustadz Solihin dan penutup Ustadz Indrasyah.

Kegiatan pengajian ini terlaksana pada Rabu, tanggal 26 Oktober 2022 Pukul 13.00 Wib. Di Jalan Lingkar Cafe Keluarga Kelurahan Kapias Pulau Buaya Kota Tanjubg Balai.

Dalam kegiatan silaturahmi ini juga di hadiri beberapa pasangan suami istri dan tamu undangan lainya.

Adapun rangkaian kegiatan yang berlangsung kegiatan di buka oleh Moderator Ustadz Husni dan Penyampaian Materi oleh Ustadz Nurlen.

Dalam kesempatanya Ustadz Husni menyampaikan kita selama melaksanakan kajian itu semua dilakukan untuk mencari ilmu agama yang akan dibawa di bekal akhirat dan itu semua akan merubah sikap pikiran dan hati kita menjadi lebih baik.

Ada tiga faktor yang diubah oleh sebab itu seandainya kita sudah mengaji masih ada yang bertingkah berperilaku buruk berarti gajian itu tidak masuk ke jiwanya sehingga Ukuwah dan persatuan umat tidak tercapai sehingga pengajian yang satu dengan yang lain terjadi kres atau saling bertentangan.

“Saya menghimbau selama kita mengikuti pengajian marilah kita merubah sikap sikap jangan sampai ada di perasaan kita hanya kita yang benar dan jangan pula rasa kajian kita menyimpang dari kajian Yang lain yang jelas kita mengamalkan Alqur’an dan sunnah nya,” ucapnya mengakhiri.

Sementara Ustaz Nurlen menyampaikan Jika ada kajian kita yang menyimpang inilah waktunya dijelaskan hari ini Kesempatan kita untuk mereka mengetahui kajian kita seperti ini.

Jadi jangan Ada Prasangka dan Praduga yang buruk setelah mengikuti kajian ini kalau ada kajian orang yang berprasangka buruk kita harus tetap berprilaku dan berprasangka baik itu selalu harus diingat kepada jamaah sekalian dengan demikian akan terjadi Jalinan Ukhuwah Islamiah yang kuat.

“Kepada Ikhwan sekalian jam kan kepada diri kita masing masing sehingga tidak ada lagi otak kita yang ter doktrin yang menyesatkan,” ungkapnya.

Di selah terkahir kegiatan Penyampaian Materi oleh daru Ustadz Solihin menyebutkan kepada yang pertama bahwa mereka ini yang datang dari Medan tidak ada perbedaan dengan kita, satu visi dan misi yaitu untuk berada di dalam kebenaran, Persaudaraan dan solidaritas di dalam Islam.

“Saya teringat ceramah ustadz yang kira kira maknanya begini suka dengan minyak wangi, baju baru itu adalah naluri yang tidak boleh dibantah dan di dustai. Kalau didustai berarti korslet otaknya, Halhal naluri itu terus lah menjalan kepada dia dibesarkan mendapatkan ilmu, bermasyarakat, itu sudah barang tentu mencintainya tidak mungkin dia benci terhadap apa yang membesarkannya di mana tempat dia bermain, bahkan terdapat pepatah mengatakan tempat jatuh dikenang apalagi tempat baik, jadi kalau ada orang yang benci demikian adalah munafik atau bermuka dua,” sambungnya.

Jadi negara kita yang membesarkan kita saat ini yang kita hidup demikian saat ini rusak akal sarapnya Jikalau dia anti dan benci NKRI, tempat kerja tuh dia cintai apalagi tempat bermain.

NKRI tempat kita bersekolah, bermasyarakat, di negara ini kita bersilaturahmi lalu kita benci dan anti itu tidak masuk akal dan logika.

Kalau kita merantau keluar kota apakah kita tidak rindu dengan kampung halaman kita?, Rindu sayang dan cinta, salah? Tidak salah rahimakumullah, lalu siapa orang yang anti dan benci dengan negaranya kalau bukan orang yang munafik dan bermuka dua.

“Jadi kita tetap cinta dengan negeri kita yang akhirnya kita minum, Yang hasil buminya bisa kita nikmati, Yang hasil buminya kita makan dan di sini pula kita bisa menjalankan sholat, silaturahmi Dan ikut menjalankan agama Allah,” ucapnya.

Mari kita jaga negara NKRI tidak akan berdiri kalau tidak kita membangunnya, Dan tidak akan bisa berdiri negara Allah kalau kita tidak ada, Dan tidak akan bisa berdiri negara persatuan kalau negeri kita tidak kita perbaiki.

Penyampaian penutup materi oleh Ustadz Indrasyah yang mengatakan bahwa ada lima faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kita mari kita lihat genggaman tangan kita ini, tidak akan kuat jika salah satu jari kita tidak ada.

Tidak akan bisa kita bina apapun kalau kelima ini tidak dibina di dalam diri kita.

Yang pertama adalah Jari jempol (Ulama), Negara tidak akan bisa berdiri kalau tidak ada ulama, ulama yang bagaimana?, ulama yang penuh kharismatik dan ke ilmuan ulama yang sifatnya bersifat mengayomi yang menjadi air setawar sedingin, bukan ulama yang sifatnya memecah belah mendeskreditkan yang menjadi contoh tidak baik, Yang memburuk-burukkan dan menjelek-jelekkan apalagi yang di jelek kan nya pemimpin atau pemerintahannya bodoh sekali dia.

Kedua Jari telunjuk (Pemimpin), Ada beberapa kewajiban kau muslim yang mensyukuri adanya negara, negara kita ini makmur ada empat musim sehingga ada juga orang/ wisatawan datang ke negara kita ini, jadi jangan timbulkan negara kita ini negara yang Garang, menjadi sangar, Binalah kelembutan ini mulai dari merdekanya Indonesia yang penuh kelembutan.

Bersyukur kita pemimpin kita masih beragama Islam dan kewajiban kita adalah pemimpin harus didoakan, Pemimpin harus didukung, pemimpin tidak boleh dihina dicaci.

Kata Rosulullah, Apabila kau menghina pemimpinmu itu sama saja menjatuhkan dirimu sendiri Apabila kau membela pemimpinmu itulah sosok dirimu yang akan muncul orang terbaik.

Kalo pemimpin kita jelek jelek kan yang runtuh siapa? Kita sendiri, tapi bagaimana jika Zolim ustadz? Benci lah perbuatan nya bukan orangnya maka timbulah ide baru kita yaitu dakwah.

Pemimpin adalah gambaran dirimu, kalau pemimpin kita anggap jelek berarti diri kita yang jelek karena pemimpin berasal dari rakyat nya, Doakan saja berilah Hidayah kepada pemimpin aku ya Allah karena kalau kita menjelekkan pemimpin itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhana wa ta’ala diakhirat nanti, jadi intinya tidak boleh memusuhi, menjauhi dan mendoakan yang jelek kepada pemimpin.

Yang ketiga jari tengah (Aparat Negara), tidak akanku negara kita kalau tidak ada aparat negara, ini adalah kekuatan kita karena mereka muncul dari kita sendiri. Maka saya himbau kepada anak anak kita untuk 10 sampai 20 tahun ke depan agar menjadi aparat Negara Yang solit menjadi umat Islam yang kuat sehingga tidak khawatir kalau yang meggang negara kita nanti adalah orang yang beragama maka dari itu jangan anti terhadap aparat Negara.

Yang ke empat jari manis (Pengusaha/ Orang Kaya), orang kaya yang kuat aqidahnya Islam nya dan visi misinya dan kita semua harus menjadi orang kaya.

Kelima jari kelingking (rakyat), bila kita Sadari bangsa dan rakyat kita maka akan menjadi bangsa dan rakyat yang Barokah dan akan berwibawa kembali di mata dunia.

Tapi kalau yang lima ini tidak akur, maka akan runtuh, Mayoritas di dunia umat Islam adalah Indonesia.

Kedepan biar kita pikirkan kembali bagaimana yang lima ini untuk kita Solit kan kita kuatkan lagi Ukuwah.

“Semoga kita dapat menjadi bagian dari hadiah kita untuk membawa manfaat dan Maslahat bagi negara kesatuan republik Indonesia ini,” tutupnya. **

Laporan: (MF)

 48 total views,  1 views today