Hujan Tinggi dan Angin Kencang Akibatkan Banjir Bandang di Garut Selatan

Garut, Lensa Expose.com

Hujan tinggi yang mengguyur Garut Selatan mengakibatkan sebagian wilayah terkena banjir dan longsor. Berdasarkan info yang didapat ada 6 kecamatan, yakni Kecamatan Pameungpeuk, Cisompet, Cibalong, Cikelet, Pamulihan dan Kecamatan Peundeuy.

Di Kecamatan Pameungpeuk, luapan air Sungai Cipalebuh dan Sungai Cikaso, sedangkan Sungai Cibera di Kecamatan Cibalong dan Sungai Cipasarangan Kecamatan Cikelet menyebabkan banyak perkampungan terendam banjir. Bahkan 3 jembatan gantung di Kecamatan Pameungpeuk hanyut terbawa air. Mengantisipasi hal ini  di lokasi terdampak, seperti jaringan listrik dipadamkan.

Di Desa Mandalakasih, 1 buah jembatan gantung hancur, sedangkan ratusa rumah terendam, yaitu di Kp. Leuwisimar (250 rumah), Kp. Sukagalih (100 rumah), Kp. Sukapura (70 rumah), dan di Kp. Asisor (30 rumah).

Sementara di Kampung Cibarani Desa Paas 2 rumah hanyut, 2 RW di Kp. Segleng terendam. Sedangkan di Desa Sinarbakti rumah banyak terendam dan 3 rumah hanyut di Kp. Bintara, serta1 buah jembatan gantung hanyut di Kp. Pasantren.

Di Desa Pameungpeuk, 1 RW di Kp. Kaumlebak berjumlah 400 rumah terendam serta1 unit posyandu, 1 unit warung hanyut, dan 1 unit rumah roboh. Tidak hanya itu, dua titik longsor  menutup akses jalan di Kp. Ciburahol. Minimnya alat berat, petugas kecamatan setempat berupaya melakukan koordinasi dengan intansi terkait, serta membersihkan material lelongsoran bergotong royong melibatkan BPBD, Dinas PUPR, Damkar, Dinsos, TNI, Polri, relawan dari FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana), dan masyarakat.

Kini pihak Kecamatan Pameungpeuk bersama forkopimcam membangun titik-titik pengungsian sementara, antara lain di Kantor Kecamatan, Kantor Koramil, Kantor Polsek, dan kantor-kantor pemerintah yang dinilai aman. Selain itu, pihaknya melakukan evakuasi warga Kp. Leuwisimar Desa Mandalakasih ke Pendopo Kecamatan Pameungpeuk. Warga dihimbau untuk tetap waspada.

“Disamping itu pula, Kampung Leuwigenteng terkurung banjir, sehingga kami memerlukan perahu karet, meski karena darurat warga menggunakan ban dalam mobil,” kata Jeje Rahimat camat Pameungpeuk.

Penulis : Tomy

 160 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *